Teman saya mengatakan demikian ketika keluarganya bertanya, mengapa ubi dan jangung saat ini kalau makan terlalu banyak, bukan membuat kita semakin sehat malah kita harus dibawa kerumah sakit atau tabib?
jujur, awalnya saya kaget sekali mendengar pengakuan dari sosok yang penuh dengan kepolosan itu. guna mengbati keingin tahuan saya bertanya kepada sosok yang sementara berada di depan saya dan teman saya itu. bapak dulu sekolah di mana? saya tidak sekolah pak? makin penasaran saya, mengapa orang yang tidak peernah sekolah ini begitu kritis? sedang saya dan teman saya ini tidak pernah berpikir akan hal ini, dan kami dari latar belakang berpendidikan pula.
karena teman saya ini seorang sarjana pertanian, dengan tegas dia mengatakan ini bukan salah ubi dan jagung.. tapi ini salah kami yang mengerti pertanian baik organik maupun non organik yang tidak pernah menginformasikan kepada para petani tentang hal-hal positif dan negatif dari pestisida dan lainnya apabila digunakan oleh mereka.. sekali lagi ini salah kami yang pintar-pintar ini. dulu orang kerja kebun tidak pernah menggunakan urea atau apapun jenisnya yang mengandung zat kimia…
dengan tenang saya bertanya kepada teman saya tadi? lantas bagaimana dengan soslusinya? kita kembali ke alam saja, jangan sering menggunakan zat2 kimia untuk pertanian kita. lantas kalau kita tidak menggunnakannya brarti produktivitas kita bisa turun. itu pola pikir rakus manusia saja. sy salut dengan sebuah hadis yang sering diucap kan oleh para ustad nya pak kadir, makanlah ketika rasa lapar dan beerhenti makan sebelum kenyang… kalau kita pahami ini, pasti tidak n akan terjadi rawan pangan dan lain-lain..
kamu semakin hebat Primus kata seorang yang dari tadi ternyata mendengar obrolan kami di sebuah kampung daerah Belu selatan NTT… kalau bisa Pak Primus bantulah kami disini… kami tidak tahu harus memulai dari mana? kami butuh Primus disini… denagn berbisik Primus katakan saatnya kita berpisah untuk sementara. besok Pak Kadir harus sendiri pulang ke Kupang. sedih, tapi saya harus iklaskan teman sy yg tanpa berpikir panjang mau mengbdi di daerahnya, padahal belum tentu dia di gaji…. selamat berjuang saudaraku… sampai jumpa di Kupang… di cafe Kita, cafe pergerakan, yang senantiasa menyiapkan menu… sate Aksi, sup diskusi, guleadvokasi dan tdk lupa jagung katemak peduli… salam perjuangan… salam pembebasan… saatnya kita mengabdi…
1 tanggapan kepada “Bukan salah Ubi dan Jagung”
Tanagekeo
November 22nd, 2010 pukul 21:15
Jadi ee wado uwi kaju kose, uwi kaju punga, jawa seo, jawa ngale ena kuwu.(ubi kayu bakar, ubi kayu kukus, jagung goreng tanpa minyak, dan biji jagung yang dimatangkan dalam abu panas di dapur garam). Ngga’e so’o mbe’o.. Tuhan Maha Tahu yang terbaik bagi umatnya. Ee wado uta ba’i (uta a’e), uta wona, uta pea, uta sasa lo’a dan masih banyak uta-uta serta segala uta-uta to longo ngada pesa, itu semua manusia ngada pesa.
Mosadaki, terus posting saja….Modo tabe woso…