Nama Ibukota Kabupaten Nagekeo begitu santer ajhir-akhir ini. Dia bagaikan seorang artis yang sedang diterpa gossip atau kasus asusila seperti Krisdayanti dan Anang Hermansyah, Julia Peres dan Dewi Persik atau sesanter Pernikahan KD dan Raos Lemos pengusaha kaya asal Negara Tetangga kita Timor Leste.
Beda dari kasus-kasus di atas dengan Nagekeo adalah kalau artis bias meningkatkan popularitas serta mendapat keuntungan yang cukup buat kehidupan mereka. Lantas Nagekeo (Mbay). Dia santer yang pertama bisa memperbanyak pundi-pundi penghasilan oknum aparat yang senang bermain di wilayah-wilayah tersebut.
Katakana saja Mbay dijadikan salah satu lumbung garam Nasional. Untuk masalah ini pertanyaan-pertanyaan demi pertanyaan akan muncul. Kira-kira pertanyaannya begini. Siapa yang menjadi pemilik lahan tersebut nantinya? Apakah rakayat? Pengusaha (kaum kapitalis)? Atau pemerintah? Kalaupun itu lahan jadi milik rakyat bagaimana perhitungan nilai investasinya? Kalau dikatakan milik pemerintah, saya adalah orang yang pertama bertanya, apakah nenek moyang kita orang Nagekeo (Mbay) lebih dahulu hadir di wilayah itu, atau Negara ini? Kalau nanti lahan itu nantinya menjadi milik pengusaha tentu saya tidak perlu bertanya. Karena adalah orientasi pengusaha yakni menguasai segala sesuatu yang bisa dinilai dengan uang untuk meningkatkan capital baik secara individu maupun coorporat.
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana dengan media penyaluran garam Nagekeo ke seleuruh pelosok tanah air? Apakah menggunakan jalaur udara? Hal ini saya tanyakan karena saat ini PEMDA Nagekeo sedang berencana membangun Bandara Surabaya II. Sayapun tidak habis piker dasar pemikiran para pembuat kebijakan kita seperti apa? Masyarakat sebenarnya butuh pelabuhan laut dan kapal yang bisa mengarungi samudra sekalipun tinggi gelombang mencapai 6 meter. Sehingga barang dan jasa bisa digerakan tanpa harus mengkambing hitamkan cuaca. Apa benar orang tua atau keluarga para mahasiswa mengangkut hewan ternak, seperti babi dan kambing untuk merayakan sukuran atas keberhasilan seorang generasi muda Nagekeo pada lembaga Pendidikan Tinggi dengan menyandang gelar sarjana atau Ahli Madya menggunakan Pesawat? Semoga pertanyaan saya ini tidak salah.
Lebih memiriskan hati lagi jika ada sekolah yang gedungnya seperti kandang ternak malah tidak diperhatikan. justru gedung sekolah tersebut letaknya persis di ibukota Kabupaten Nagekeo. Atau ada anak sekolah yang pergi ke sekolah harus bertelanjang kaki karena ketidak mampuan untuk memiliki sepatu, atau minimal sandal jepit sehingga kaki-kaki mungil mereka tidak harus menyatu dengan panasnya bumi atau tebalnya lumpur. Semoga pemikiran sporadic ini bisa bermanfaat…